Kerinci Inspirasi (Red). Keinginanmu untuk memiliki lebih banyak
uang membuat keluarga atau teman dekat menaikkan alis. Mungkin mereka juga
menyebutmu materialistis. Padahal, justru cita-cita untuk hidup
berkecukupan yang mampu melecut dirimu untuk
selalu mengembangkan karakter. Agar tak menyerah saat tantangan
datang, agar jeli melihat peluang. Cita-citamu ini sebenarnya normal
normal saja. Ia bukanlah suatu dosa, justru api semangat yang bisa
menjadikanmu sebaik-baiknya manusia.
Meski sangat
menghargai uang, belum tentu kamu materialistis. Kamu hanya realistis.
Hidup itu penuh
cobaan dan tantangan. Ada harga yang harus dibayar untuk bertahan. Kebutuhan
akan makan, tempat tinggal, sandang, dan pendidikan adalah kebutuhan pokok umat
manusia, belum lagi berbagai kebutuhan sekunder yang tak mungkin bisa disebut
satu-persatu.
Dan untuk mencukupi segala kebutuhan itu,
kamu tahu, kamu memerlukan uang. Inilah yang justru melecutmu
untuk selalu bekerja keras dan berhemat. Pemahaman bahwa uang
itu penting menjadikanmu mampu meraih kebebasan finansial lebih cepat.
Menghargai uang juga tak membuatmu
jadi orang jahat. Kamu tak serta-merta akan menghalalkan segala cara
untuk menjadi kaya.
Selama ini kita selalu diberi pemahaman yang salah
tentang uang. Mulai dari guru sampai orangtua selalu mengatakan dan menganggap
bahwa cinta uang adalah salah. Bahkan seringkali mereka menganggap bahwa uang
adalah sumber kejahatan. Karena uang, manusia rela mencuri, merampok, bahkan
membunuh.
Padahal jika ditelisik lebih dalam, justru
penyebab kejahatan adalah perasaan selalu kekurangan, bukan serta-merta uang.
Karena selalu merasa kurang, segala hal haram dilakukan. Termasuk hal
haram yang merugikan kemaslahatan banyak orang.
Ini tentu berlainan dengan semangat meraih
kemapanan yang kamu punya. Perhatian pada uang justru membuatmu lebih
keras bekerja, bukan menghalalkan segala cara. Tak pernah terpikirkan olehmu
untuk mencuri atau menghilangkan nyawa orang lain demi menjadi kaya. Yang fokus
kamu lakukan adalah memanfaatkan segala peluang kerja agar hidupmu
nyaman nantinya.
Mungkin yang kamu inginkan bukanlah punya
uang berjuta-juta. Hanya harta yang cukup untuk bisa membantu sesama.
Mungkin
yang kamu inginkan bukanlah menjadi orang terkaya di dunia. Cukuplah bagimu
memiliki gaji dan pendapatan tiap bulan untuk memenuhi kebutuhan hidup
sehari-hari, dan kalau mungkin, memiliki sisa untuk ditabung lagi. Lebih bagus
jika kamu memiliki sisa uang untuk membantu sesama.
Dengan punya lebih banyak harta, otomatis
ada lebih banyak yang bisa kamu berikan pada orang lain yang sedang kesusahan.
Misal, ada tetangga yang sakit namun mereka tak memiliki biaya untuk berobat,
bukankah dengan adanya uang kamu bisa dengan mudah membantu mereka ketika kamu
tak kekurangan harta?.
Memang harta tidak dibawa mati. Namun jika
wafat nanti, kamu ingin punya sesuatu untuk diwarisi. Jangan sampai
karena kesalahanmu semasa hidup membuat diri dan keluargamu menderita ketika
kamu tinggalkan. Alih-alih meninggalkan dan mewariskan harta, kamu malah
meninggalkan hutang dan belas kasihan orang.
Harta memang tak dapat dibawa mati. Namun
harta yang digunakan untuk kebaikan tak akan terputus, dan semoga bisa
memberatkan amal kebaikan kita di hari perhitungan nanti. Oleh karenanya,
cita-cita untuk menjadi orang kaya bukanlah hal yang hina. Justru karenanya
bisa membuat kita mulia di hadapan-Nya.
Ada hal-hal yang memang tak dapat dibeli
dengan uang. Namun jika sudah mapan, kita bisa memberikan yang terbaik untuk
orang-orang tercinta.
Anggapan bahwa tak semua hal dapat
dibeli dengan uang memang benar adanya. Contohnya adalah cinta dan kebahagiaan.
Banyak orang yang memiliki banyak uang, namun tak bahagia dalam hidupnya.
Jangan sampai kamu menjadi orang kaya seperti ini. Namun menjadi miskin juga
tak jauh berbeda dengan menjadi orang kaya yang tak bahagia.
Bayangkan, tegakah jika anak
kita merengek minta dibelikan sepatu baru karena sepatu yang lama sudah tak
layak pakai, sementara kita tak mampu membelikannya? Bukankah hatimu akan
mencelos karenanya? Tak mampu membahagiakan orang-orang tercinta kita. Oleh
karenanya menjadi orang kaya dan memiliki banyak harta bukanlah sebuah dosa.
Justru karenanya kita dapat membahagiakan orang-orang terdekat kita.
Dengan apa yang kita punya, kita bisa menjadikan
dunia sebagai tempat yang lebih baik dan menciptakan lebih banyak tawa.
Kamu
bisa menjadikan dunia sebagai tempat yang lebih baik dan nyaman untuk
ditinggali jika memiliki banyak harta. Tempat ibadah di kampungmu sudah reyot
dan terlihat seperti akan roboh? Sementara sumbangan di kotak amal tiap minggu
tak cukup untuk memenuhi biaya renovasi, bukankah lebih baik menjadi orang kaya
harta agar bisa menyumbang agar tempat ibadah di kampung bisa diperbaiki?
Atau mungkin ada sekolahan yang
kondisisinya sudah mengenaskan sehingga membahayakan para siswanya, sementara
pemerintah seakan buta dengan kondisi tersebut. Bukankah lebih baik jika kamu
ikut ambil bagian demi terwujudnya pendidikan yang lebih baik, menjadikan
bangsa ini lebih cerdas dan terdidik?.
Cita-cita untuk mengikuti panggilan Illahi,
dan memberangkatkan orang tercinta ke tanah suci juga semakin mudah
diwujudkan ketika kamu sudah mapan.
Bermimpi untuk
pergi ke tanah suci, atau memberangkatkan orangtua tercinta pergi kesana
mungkin adalah mimpimu. Hal tersebut mungkin adalah salah satu hal yang bisa
dilakukan untuk membahagiakan orangtuamu sebelum mereka meninggalkan dunia ini.
Bukankah suatu kebahagiaan dan kepuasan batin jika mampu memberangkatkan mereka
ke tanah suci dengan keringat sendiri?
Jadi jangan khawatir cita-citamu menjadi
kaya akan mengubahmu menjadi orang yang jahat pada sesama. Buktikanlah
sebaliknya. Memiliki banyak uang bukanlah dosa — justru bisa menjadikanmu
manusia yang hidupnya begitu berguna!







Nggak ada salahnya kan yak keinginan utk mempankan diri, apalagi bertujuan agar dpt membantu sesama...
BalasHapusSip..lanjutkan..
:)